16/06/14

ANDI RIANTO (KOMPOSER INDONESIA)


          Andi Rianto adalah seorang komposer Indonesia, arranger, dan pendiri Magenta Orchestra. Ia mulai terobsesi ingin menjadi seorang ilustrasi musik film saat seorang guru pianonya memperkenalkan padanya musik – musik ilustrasi karya John Williams.

Beberapa garapan John Williams untuk ilustrasi musik film Amerika dapat kita dengar melalui film Stars Wars, ET, Superman, dan banyak lagi.

          Andi Rianto telah mengenal dan belajar piano sejak usianya masih 4 tahun. Bahkan diusia 5 tahun, ia sudah dipercayakan untuk mengiringi teman – teman sebayanya nyanyi di TVRI yang diasuh oleh Kak Seto dan Henny Poerwonegoro kala itu.

Andi Rianto pernah belajar piano pada Baarjte Sitindjak ketika usianya masih 8 tahun. Ia juga ikut belajar di Yamaha Music Foundation pimpinan Watanabe.

Saat masih duduk di bangku SMA, ia hijrah ke New York – Amerika dan lanjut di Forest Hills School. Setelah lulus dari sekolah setingkat SMA tersebut, Andi Rianto langsung mendaftar dan memperdalam bakat musiknya ke Barklee Music di Boston – Amerika, serta mengambil jurusan Film Scoring (Ilustrasi Musik Film).

Selama kuliah di Barkelee Music, Andi Rianto sering bertemu dengan sang idolanya yaitu John Williams yang banyak memberinya pengetahuan tentang Ilustrasi Musik Film.

Andi Rianto balik ke Jakarta dia awal tahun 1998, selang beberapa lama kemudian ia ditawari oleh Titi DJ untuk menggarap musik dari “Album Bahasa Kalbu” dibawah Label Aquarius. Ternyata album ini meledak dipasaran bahkan meraih 5 penghargaan pada ajang AMI Award tahun 1999. Sejak saat itu Andi Rianto dipercayakan oleh Label Aquarius untuk menggarap musik beberapa penyanyi papan atas Indonesia, seperti: Krisdayanti, Ruth Sahanaya, Audy, Ari Lasso, Padi, Warna, serta beberapa penyanyi lainnya untuk label musik yang berbeda.

Beberapa label musik yang pernah kerjasama dengan Andi Rianto, diantaranya Aquarius, Warner, Sony Music, dan sejumlah label lainnya.

Tahun 1999 Andi Rianto berkenalan dengan Wiki dari Multivision, lalu ia ditawari untuk menggarap ilustrasi musik dari sinetron “Paji Manusia Milenium”. Dari pengalaman ini ia kembali dipercayakan menangani ilustrasi musik berbagai sinetron lain, seperti, Doa Membawa Berkah, Kemuning, juga beberapa sinetron lainnya.

Setelah sukses mengerjakan ilustrasi musik pada berbagai judul sinetron, akhirnya Andi Rianto mendapat peluang yang pertama kalinya menggarap ilustrasi musik film layar lebar tanah air. Kesempatan itu datang dari Nia Dinata yang menawarkan Andi Rianto menangani ilustrasi musik film berjudul Ca Bau Kan (CBK).

Selanjutnya Andi Rianto terus menggarap ilustrasi musik beberapa judul film layar lebar, seperti: film Arisan, Mengejar Matahari, Andai Ia Tahu, 30 Hari Mencari Cinta, Titik Hitam, Vina Bilang Cinta, Jatuh Cinta Lagi, Mendadak Dangdut, Pocong, Kuntilanak, Biarkan Bintang Menari, dan beberapa film layar lebar.

Andi Rianto pernah dua kali menjadi nominator Penata Musik Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI), masing – masing untuk film Mendadak Dangdut (tahun 2006), dan Mengejar Mas – Mas (tahun 2007).

Suatu saat Andi Rianto mendapat tawaran dari Indra Bakrie ( pengusaha dan salah seorang pendiri Twilite Orchestra) untuk membentuk Magenta Orchestra. Tujuannya untuk lebih memperkenalkan musik orchestra dalam berbagai warna dan genre musik yaitu memadukan antara orchestra dengan pop, orchestra dengan jazz, bahkan orchestra dengan dangdut, sehingga musik orchestra mudah diterima oleh masyarakat Indonesia.

          Pada Tanggal 18 Mei 2004, Magenta Orchestra diresmikan bahkan dimeriahkan oleh sejumlah artis terkenal, seperti: Glenn, Marcel, Bebi Romeo, Ruth Sahanaya, Sheila Madjid, dan Krisdayanti.















Baca Selanjutnya … ANDI RIANTO (KOMPOSER INDONESIA)

14/06/14

BENS LEO (PENGAMAT MUSIK INDONESIA)



          Nama lengkapnya adalah Benny Hadi Utomo, namun populer dengan sebutan Bens Leo. Ia adalah seorang pengamat musik Indonesia, jurnalis, dan produser.

Bens Leo memiliki seorang istri yang namanya Pauline Endang dan mereka dikaruniai seorang anak yaitu Addo Gustaff Putra.

Bens Leo lahir tanggal 8 Agustus 1952 di Pasuruan – Jawa Timur. Sekolahnya diselesaikan hingga tinggkat SMP di Pasuruan, kemudian ia hijrah ke Jakarta dan melanjutkan sekolahnya pada tinggkat SMA.

          Bakat jurnalisnya diawali saat ia mulai aktif berkencimpung dalam tim media majalah sekolah di SMA. Diusia remajanya ketika itu, Bens Leo sudah punya angan – angan untuk kelak ikut bergabung dan bekerja di Majalah AKTUIL, yang merupakan majalah entertainment tanah air.

Tamat dari SMA, Bens Leo mencoba keberuntungan dengan mendaftarkan dirinya masuk AKABRI namun gugur. Kemudian ia berencana untuk ikut pendidikan penerbangan di Curug, sayangnya ia terlambat mendaftar sehingga rencana tersebut gagal.

Bens Leo juga pernah punya harapan untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi, namun niat tersebut dibatalkan karena ia tidak ingin membebani ibunya yang single parent untuk biaya kuliah. Almarhum ayahnya adalah seorang pegawai negeri.

Angan – angan yang semula ingin menjadi seorang jurnalis kembali mengusik dalam pikiran Bens Leo. Tahun 1971 ia pun kemudian nekat menjadi wartawan lepas dengan mulai menemui Tonny Koeswoyo (personil Koes Plus) ke tempat Koes Bersaudara berdomisili, yaitu di Jln. Haji Nawi, Jakarta Selatan.

Gayung bersambut, ternyata ia diterima dan mendapat waktu luang untuk mewawancarai Tonny Koeswoyo. Setelah itu ia dijanji oleh Tonny Koeswoyo agar kelak datang kembali untuk wawancara seputar sejarah perjalanan musik Koes Bersaudara, juga Bens Leo akan diajarkan tentang pengetahuan Ilmu Jurnalistik. 

Segera setelah selesai wawancara sesi pertama tersebut dan menyusunnya dalam sebuah artikel, ia pun mengirimnya ke redaksi Mingguan Berita Yudha Sport & Film. Seminggu kemudian karya tulis yang dibuatnya terbit pada bagian Headline dengan judul “Sejarah Koes Bersaudara”. Berangkat dari sinilah akhirnya Bens Leo mendapat keksempatan menangani rubrik Seni Budaya di Mingguan Berita Yudha Sport & Film.

Melanjutkan sesi kedua wawancaranya dengan Tonny Koeswoyo, ia kembali mendapat referensi dari personil Koes Plus tersebut untuk menemui Panjaitan Bersaudara (Panbers) d Sei Hang Tuah Raya, Kebayoran Baru – Jakarta Selatan untuk sebuah wawancara.

Hasil wawancara dari para musisi tersebut, dikirimnya ke kantor pusat Majalah AKTUIL, berlokasi di Lengkong Kecil, Bandung – Jawa Barat, dengan resmi menggunakan nama Bens Leo, dan mulai dikenal sebagai wartawan musik muda tanah air. Ia pun memilih untuk fokus menjadi penulis tetap pada Majalah AKTUIL, yang merupakan impiannya sejak semula.

Tahun 1974, Bens Leo mendapatkan kepercayaan untuk menjadi bagian dari Tim Dewan Juri Festival Lagu Pop Indonesia, dimana nantinya juara dari festival ini akan dikirim ke ajang World Popular Song Festival, di Tokyo – Jepang.

Pada tahun 1976, Bens Leo dipilih ikut mendampingi Guruh Soekarno Putra, Idris Sardi, dan Grace Simon, untuk menghadiri World Popular Song Festival di Tokyo – Jepang, sebagai satu – satunya wartawan musik tanah air mewakili Majalah AKTUIL guna meliput event bergengsi Internasional ketika itu.

Dari pengalaman di Tokyo tersebut, Bens Leo makin dipercayakan untuk kembali ikut meliput World Pop Song Festival di Tokyo – Jepang, periode 1978, 1982, dan 1984.

Desember tahun 1975 saat grup musik rock tanah air God Bless menjadi band pembuka konser Deep Purple di Gelora Bung Karno, Bens Leo juga sempat mewawancarai grup band God Bless.

Selama masih bergabung di Majalah AKTUIL, Bens Leo juga pernah membuat Cover Story dari beberapa musisi papan atas tanah air.

Ditahun yang sama Bens Leo ikut mendapat undangan mengikuti diskusi musik di TVRI seputar Konser Musik Rock di Gedung Sate.

Lomba Cipta Lagu Remaja sebagai ajang pencari bakat bagi musisi tanah air yang digelar oleh Radio Prambors sejak tahun 1977 hingga beberapa tahun berturut - turut, Bens Leo selalu dipilih menjadi salah seorang anggota Dewan Juri dari kompetisi ini.

Sejak tahun 1985 sampai 2007, Log Zhelebour selalu mempercayakan Bens Leo untuk menjadi bagian dari Dewan Juri Festival Lagu Rock Indonesia, yang kemudian ajang tersebut berganti nama Gudang Garam Rock Competition.

Bens Leo juga merupakan seorang pencari bakat untuk mengangkat musisi muda tanah air ke kancah musik Indonesia. Hal tersebut ia buktikan di tahun 1993 dengan memproduseri album perdana dari grup musik pop Kahitna berjudul Cerita Cinta.

Di tahun 2000, Bens Leo mendapat tawaran dari Maxi Gunawan (seorang pencinta musik pop Indonesia) untuk bersama menangani bisnis media cetak seputar informasi musik dengan nama News Musik. Namun ditahun 2003 bisnis ini bubar.

Beberapa event internasional yang pernah menghadirkan Bens Leo sebagai salah satu anggota juri, diantaranya:

- Tahun 2003 menjadi salah satu Tim Juri pada Kompetisi Lagu Asean di Singapura, mewakili Indonesia.

- Tahun 2005 mewakili Indonesia menjadi Tim Juri World Oriental Music Festival Sarajevo, Bosnia.

          Bens Leo juga mendapat kepercayaan sebagai salah satu anggota Tim Sosialisasi Anugrah Musik Indonesia (AMI), dan Penasehat pada SCTV Awards.










Baca Selanjutnya … BENS LEO (PENGAMAT MUSIK INDONESIA)

10/06/14

DENNY SAKRIE (PENGAMAT MUSIK)


          Sosok Denny Sakrie tentu sudah tidak asing lagi bagi pencinta musik tanah air. Ia adalah seorang pengamat musik Indonesia, penulis, penyiar radio, serta pengisi suara pada berbagai iklan radio dan televisi.

          Lahir dengan nama Hamdhan Syukrie pada tanggal 14 Juli 1963 di Ambon. Ia seorang Sarjana Ekonomi, jurusan Manejemen, Universitas Hasanuddin, Makassar – Sulawesi Selatan.

Bakat menulisnya telah terlihat sejak masih SMP, dimana pada tahun 1979 ia sudah mulai menulis artikel pada harian Pedoman Rakyat yang merupakan koran terbitan Makassar – Sulawesi Selatan.

Beberapa media terkemuka dinegeri ini pernah memuat tulisan – tulisan Denny Sakrie, seperti: Majalah Hai, Vista, Gadis, Variasi, Mode, Republika, dan Suara Pembaruan.

Ada juga daftar buku yang menjadi karya Denny Sakrie, yaitu:

- Audio Book Chrisye Masterpiece, penerbit PT. Musica Studio’s tahun 2007, dan
- “Musisiku” (sebagai penulis dan penyunting bersama Komunitas Pencinta Musik Indonesia), Penerbit Republika - tahun 2007.

Profesi Denny Sakrie didunia siaran radio diawali pada tahun 1988 saat masih menetap di Makassar, pada sebuah stasiun radio swasta yaitu Radio Madama FM Makassar (music director dan penyiar), kemudian berlanjut ke Radio Suara Irama Indah - Jakarta, lalu sebagai music Continuity Officer di Prambors Radio Network, juga Penyiar di FeMale Radio, kemudian di Radio M-97 FM (khusus memutar lagu - lagu classic rock), sementara di Woman Radio ia membawakan acara life style dengan nama Life Trax, trus pembawa acara “Galeri Musik Indonesia” di Radio Trijaya – Jakarta, pernah juga membawa acara “Musical Box” berupa acara musik yang disiarkan secara nasional ke 10 kota dalam jaringan Radio Female, dan Radio Delta FM.

Denny Sakrie bahkan merambah dunia pertelevisian tanah air dengan ikut menangani beberapa tayangan televisi, yaitu:

- Tim Pembuat Soal “Kuis Musik Persembahanku” di Indosiar bersama Ani Sumadi Production,
- Tim Pembuat Soal dan Tim Kreatif “Kuis Siapa Berani” yang dibawakan oleh Helmy Yahya,
- Tim Pembuat soal “Quiz Gladiator 1 Millyar”,
- Tim Pembuat Soal “Quiz Celebrity For Charity”, dan
- Tim Pembuat Soal Quiz Gosip Atu Fakta.

Denny Sakrie juga sering tampil di beberapa stasiun televisi mengomentari berbagai fenomena sejarah dan perkembangan dunia musik ditanah air dan mancanegara.

Dalam beberapa event musik bergengsi tanah air, Denny Sakrie juga ikut menjadi anggota dari tim juri pada:

- Lomba Cipta Lagu Remaja (1996 – 1997),
- Tawuran Music Levi’s (1997 – 1999),
- Lomba Vokal Group Indomaret Se-Indonesia (2006),
- Dewan Juri Kategori Anugrah Musik Indonesia (2006 – 2008),
- Lomba Cipta Lagu BNI’46 (2008),
- Java Jazz International Festival Award ((2008),
- Jazz Goes To Campus Awarding (2007 – 2009),
- Indigo Music Award Telkomsel (2009).

Didunia film, Denny Sakrie berperan sebagai Hagi Haryadi yang merupakan seorang pengamat musik band – band indie, dengan film berjudul “Garasi”, disutradarai oleh Agung Sentausa, produksi Miles Films Productions.

          Denny Sakri juga menjadi kontributor tetap beberapa majalah ditanah air, seperti: Majalah Rolling Stone Indonesi, Tempo, dan harian KOMPAS.













Baca Selanjutnya … DENNY SAKRIE (PENGAMAT MUSIK)