Saat masih kecil,
Idris Sardi dikenal sebagai
“Anak Ajaib” karena diusianya yang masih 8 tahun ia sudah mahir
memainkan biola. Dan ketika
Idris Sardi telah menjadi
seorang maestro biola dibidang
musik komersial, ia dijuluki
“Si Biola Maut”.
Idris Sardi lahir tanggal 7 Juni 1938 di Jakarta dan wafat tanggal 28 April 2014 di Cimanggis, Depok. Ia berasal dari
keluarga turunan seniman. Kakeknya merupakan seorang
musisi Keraton Yogyakarta.
Nama bapaknya adalah Sardi yang juga seorang
seniman biola terkenal dan
seorang ilustrator. Pak Sardi demikian ayahnya dipanggil, adalah anggota tetap yang
bermain biola pada Orkes RRI – Jakarta. Sementara ibunya adalah Hadidjah merupakan
bintang film tanah air.
Selama hidupnya,
Idris Sardi telah tiga kali menikah. Isteri pertamanya adalah Zerlita, setelah itu ia menikah dengan
seorang artis tanah air yaitu Marini, namun mereka bercerai. Danterakhir
Idris Sardi menikah dengan Ratih Putri.
Dua orang
anak Idris Sardi yang menjadi
artis film Indonesia dari pernikahannya dengan Zerlita adalah,
Santi Sardi dan
Lukman Sardi.
Idris Sardi mulai belajar main biola pada ayahnya saat berusia masih 6 tahun. Kemudian diusia 8 tahun, ia diterima sebagai mahasiswa pada
Akademi Musik Indonesia (AMI) Yogyakarta oleh
Nicolai Vortofolomeyeff, yang merupakan
seorang musisi perlarian Rusia dan saat itu memimpin
Orkes Radio RRI Jakarta.
Masa kecil Idris Sardi sehari – hari lebih banyak diisi dengan kesibukannya
bermain biola di
RRI Yogyakarta pada pagi hari, selanjutnya mengikuti perkuliahannya di
AMI pada siang hari, lalu sore harinya kembali lagi ke
RRI Yogyakarta. Nyaris tidak ada waktu bagi
Idris Sardi kecil untuk bermain dengan teman sebayanya ke tempat lain.
Untuk pertama kalinya di tahun 1949 ia tampil didepan publik mengikuti
Konser Akademi Musik Indonesia di Gedung Negara Yogyakarta, dan mendapat sambutan yang luar biasa.
Pada tahun1952 ia masuk ke
Sekolah Musik Indonesia (SMIND) Yogyakarta. Waktu itu
SMIND hanya menerima siswa mulai lulusan SMP keatas, sementara
Idris Sardi masih berusia 14 tahun. Ketika itu yang menjadi pemimpin orkes pada
Sekolah Musik Indonesia (SMIND) tersebut adalah
Nicolai Varvolomejeff, sehingga memudahkan
Idris Sardi masuk menjadi siswa disekolah tersebut.
Karena kepiawaiannya
bermain biola diusia yang masih kanak – kanak, maka
Idris Sardi dipercayakan sebagai
concerto master di SMIND.
Idris Sardi bersama sahabatnya yaitu
Suyono (salah satu violis terbaik SMIND saat itu) merupakan siswa yang sangat berbakat di
SMIND.
Idris Sardi juga pernah
belajar biola pada dua orang
pemain biola asal Hongaria, yaitu
George Setet ditahun 1952 – 1954 waktu masih di Yogyakarta dan
Henri Tordasi tahun 1954 di Jakarta.
Hongaria adalah salah satu negara yang banyak melahirkan
musisi biola terkenal.
Ketika
Idris Sardi berumur 16 tahun, ayahnya meninggal dunia pada tahun1953. Kemudian ia diminta untuk menggantikan posisi almarhum sang ayah sebagai
violis untuk
Orkes RRI Jakarta pimpinan Saiful Bahri. Mulai dari sinilah
Idris Sardi sering tampil diberbagai acara kenegaraan dan di
Istana Negara.
Seiring
perjalanan musik Idris Sardi yang membawa nama besarnya saat itu, disisi lain keadaan ekonominya tetap pas - pasan saja. Bagaimana caranya ia bisa bermimpi ingin hidup mapan, agar segala kebutuhan apapun bisa terpenuhi, jika hanya mengandalkan
musik non komersial pada era tahun 1960-an di Indonesia? Memang masih sangat sulit ketika itu.
Atas pertimbangan ini sehingga membuat
Idris Sardi mengambil keputusan meninggalkan idealismenya untuk menekuni dunia musik biola yang serius
Idolisme Heifetz. Ia kemudian beralih memilih bermain
musik biola yang komersial Helmut Zackarias. Keputusannya ini membuat
para pengamat musik bereaksi.
Idris Sardi dituding sebagai bukan
musisi sejati yang idealisme (pelacur musik).
Jika saat itu
Idris Sardi tetap meneruskan bermain musik biola yang serius sampai ke tingkat
Kelas Master melalui
Jascha Heifetz atau
Yahudi Menuhin, maka dipastikan ia sudah dikenal saat ini sebagai
salah satu pemain biola kelas dunia yang sejajar dengan
Jascha Heifetz dan
Yahudi Menuhin.
Orang Indonesia pertama yang pernah belajar langsung dengan
Jascha Heifetz adalah
Ayke “Liem” Nursalim, adalah seorang pemain biola wanita yang terkenal ditanah air. Pada tahun 1955 diusianya yang masih 4 tahun,
Ayke “Liem” Nursalim telah ikut bermain
orkestra di Yogyakarta.
Beberapa musisi terkenal yang pernah menjadi
guru biola Idris Sardi saat ia belajar musik di Eropa, seperti:
Boomer (Jerman), Hendrick Tordasi & Frank Sabo (Hongaria), Henk Te Straake (Belanda), Keney (Inggris), dan Madanie Renee Tovanos (Prancis).
Sejak era tahun 1970-an,
Idris Sardi akhirnya sudah bisa mulai merasakan hidup mapan. Berbagai
prestasi dan penghargaan dari dunia musik komersial diraih Idris Sardi, seperti:
1. Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik film Pengantin Remaja pada tahun 1971,
2. Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik film Perkawinan pada tahun 1973,
3. Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik film Cinta Pertama pada tahun 1974,
4. Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik film Sesuatu Yang Indah pada tahun 1977,
5. Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik film Budak Nafsu pada tahun 1984,
6. Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik film Doea Tanda Mata pada tahun 1985,
7. Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik film Ibunda pada tahun 1986,
8. Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik film Tjoet Nja Dhien pada tahun 1988,
9. Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik film Noesa Penida pada tahun 1989, dan
10. Piala Citra untuk Penata Musik Terbaik film Kuberikan Segalanya pada tahun 1992,
11. Menerima Mahkota Penghargaan, Penghormatan, Pengabdian, Dedikasi, dan Konsistensi di Bidang Musik Indonesia pada tahun 2001 dari Sri Sultan Hamengkubuwono X.
12. Golden Maestro Award dari Yayasan Pendidikan Musik pada tahun 2002,
13. Legenda BASF Award.
Pada tahun 1966,
Idris Sardi medapat tawaran untuk melatih
Satuan Musik Militer Kodan X dengan murid sebanyak 700 orang, diberi
pangkat Letnan Kolonel CAJ. Bahkan tahun 1997, dirinya juga ikut
melatih musik untuk Kopasus.
Seorang violis papan atas Indonesia yaitu Maylaffayza Wiguna merupakan
anak murid Idris Sardi.
Pada tanggal 28 April 2014,
Idris Sardi menghembuskan nafas terakhir di RumahSakit Meilia, Cibubur, karena telah lama menderita liver dan sakit pada bagian lambung.